DCSIMG

How To Be Happy

Hikmah Berbaik Sangka kepada Orang Lain

Oleh BrighterLife.co.id

Komentar (0)

Berbaik sangka adalah salah satu cara untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan sesama manusia. Dalam Islam, berbaik sangka selalu dianjurkan untuk diterapkan setiap saat kepada siapa saja. Dikisahkan, pada suatu hari, Rasulullah SAW mengutus Umar RA untuk menarik zakat dari para sahabat. Akan tetapi, Ibnu Jamil, Khalid bin Walid, dan Abbas yang juga paman Nabi SAW tak menyerahkan zakatnya. Umar pun melaporkan sikap ketiga orang tersebut kepada Rasulullah.

Mendengar laporan tersebut Rasulullah bersabda, “Tiada sesuatu yang membuat Ibnu Jamil enggan untuk menyerahkan zakat kecuali dirinya fakir, kemudian Allah menjadikannya kaya. Adapun Khalid, sesungguhnya kalian telah berbuat zalim terhadapnya (karena) ia menginfakkan baju besi dan peralatan perangnya di jalan Allah. Adapun Abbas, aku telah mengambil zakatnya dua tahun lalu.”

Dari kisah itu, Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita semua untuk selalu berbaik sangka kepada sesama. Nabi SAW mengajak umatnya untuk menjauhi prasangka buruk. Syekh Salim bin Ied al-Hilali dalam Syarah Riyadhus Shalihin—seperti dikutip dari republika.com—pun mengungkapkan bahwa seorang muslim yang baik seharusnya menjauhkan diri dari menuduh, mengkhianati keluarga, teman, kerabat, dan orang-orang yang bukan pada tempatnya, karena jika dibiarkan terlalu jauh maka akan berkembang menjadi fitnah.

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadisnya, “Jauhilah olehmu prasangka. Sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta” (Muttafaq ‘alaih). Lalu apa sebenarnya prasangka itu? Menurut Syekh al-Mishri, ada empat macam prasangka yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, prasangka yang diharamkan. Prasangka yang masuk dalam kategori ini adalah prasangka terhadap Allah serta berprasangka buruk terhadap kaum muslimin yang adil. Kedua, prasangka yang diperbolehkan, yaitu prasangka yang terlintas dalam hati seorang muslim kepada saudarannya karena adanya hal yang mencurigakan. Ketiga adalah prasangka yang dianjurkan. Menurutnya, prasangka jenis ini adalah prasangka yang baik terhadap sesama muslim. Keempat adalah prasangka yang diperintahkan. Syekh al-Mishri mengemukakan, prasangka yang diperintahkan adalah prasangka dalam hal ibadah dan hukum yang belum ada ketentuannya. “Dalam hal ibadah, kita cukup berdasarkan prasangka yang kuat, seperti menerima kesaksian dari saksi yang adil, mencari arah kiblat, menaksir kerusakan-kerusakan, dan denda pidana yang tak memilikiketentuan untuk menentukan jumlah atau kadarnya,” ungkap Beliau.

Pada zaman sekarang, banyak ditemukan berita kriminal atau kejadian yang dapat membuat kita bergidik ngeri, membuat kita terkadang jadi saling menaruh curiga. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita. Terkadang, dengan berbaik sangka dan tetap melakukan kebaikan terhadap orang lain, kita dapat meredam semua niat jahat dan justru menjadi inspirasi bagi yang lain. Jadi, teruslah berbaik sangka, Bright Friends.

Tambahkan komentar baru:

Catatan: Mohon pastikan membacakebijakan berkomentar dan syarat dan ketentuan untuk situs ini. Kami berhak untuk menghapus komentar yang melanggar kebijakan kami. Nama yang Anda berikan akan muncul setelah komentar Anda. Terima kasih!

Alamat email Anda tidak akan dimunculkan. Kolom yang dibutuhkan mempunyai tanda*

Memberikan Respons

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Terhubung dengan Brighter Life