DCSIMG

How To Be Happy

Penyebab Perceraian dan Cara Meminimalisasi Dampak Psikologisnya pada Anak

Oleh BrighterLife.co.id

Komentar (0)

jan-4-5

Setiap pasangan menginginkan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Namun, nyatanya, perceraian tidak bisa dihindari bagi sebagian orang. Selain perbedaan prinsip, ada tiga alasan lain yang menjadi penyebab perceraian.

Pernikahan terlalu dini

Menikah belum cukup umur membuat pasangan muda belum siap menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan pernikahan. Karena itulah, seringkali keputusan yang dibuat banyak pasangan adalah bercerai saat menghadapi banyak tekanan hidup.

Intimidasi dan tindak kekerasan

 

Intimidasi atau perkataan kasar yang dilontarkan oleh suami kepada istri maupun sebaliknya dapat mematikan keharmonisan dalam rumah tangga, apalagi jika sampai terjadi kekerasan secara fisik. Inilah yang kemudian membuat tidak sedikit pasangan memilih untuk mengakhiri pernikahan ketimbang bertahan dalam hubungan yang tidak lagi sehat.

 

Hadirnya orang ketiga

 

Tentu saja, tidak ada pasangan yang merelakan orang yang dia cintai melakukan perselingkuhan. Hal ini menyebabkan luka. Luka karena dikhianati inilah yang membuat pasangan mengambil keputusan dini tanpa pertimbangan matang, yaitu perceraian.

 

Kemudian, jika perceraian sudah terjadi, siapakah yang paling terluka? Mungkin, pasangan yang belum dikaruniai anak akan merasa bahwa hidup baru dapat segera dimulai setelah mengakhiri cerita lama. Namun lain halnya dengan pasangan yang memiliki buah hati. Perceraian, apa pun alasannya, akan membawa dampak buruk pada psikologis anak. Karena itu, lakukan beberapa langkah bijak di bawah ini untuk meminimalisasi dampak buruk tersebut:

 

  1. Orangtua secara halus dan perlahan menjelaskan masa transisi keluarga kepada anak-anak, serta bagaimana perceraian mempengaruhi hidup mereka selanjutnya.
  1. Sikap menjelek-jelekkan pasangan di depan anak sama sekali tidak baik karena akan mempengaruhi sikap dan pandangan anak terhadap orangtuanya, bahkan sangat mungkin menimbulkan kebencian.
  1. Pengaturan kunjungan setelah orangtua bercerai kadang sulit diterima oleh anak. Karena itu, sebisa mungkin, orangtua yang mendapat hak asuh anak tetap harus menjaga kedekatan hubungan anak dengan mantan pasangan.

Tambahkan komentar baru:

Catatan: Mohon pastikan membacakebijakan berkomentar dan syarat dan ketentuan untuk situs ini. Kami berhak untuk menghapus komentar yang melanggar kebijakan kami. Nama yang Anda berikan akan muncul setelah komentar Anda. Terima kasih!

Alamat email Anda tidak akan dimunculkan. Kolom yang dibutuhkan mempunyai tanda*

Memberikan Respons

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Terhubung dengan Brighter Life