DCSIMG

How To Be Wealthy

Menggagas Premi Murah Asuransi Syariah

Oleh BrighterLife.co.id

Komentar (4)

Oleh Karnali Faisal

Saya coba melakukan simulasi biaya pendidikan SMA untuk putri saya yang saat ini berusia 3 tahun. Jika dihitung dari sekarang, berarti sekitar 12 tahun lagi duduk di bangku SMA. Dengan asumsi uang pangkal masuk SMA tahun 2013 ini Rp 5 juta, inflasi tahunan 10%, peningkatan biaya pendidikan setiap tahun 5%, serta biaya sekolah per tahun 9 juta, maka dana yang harus saya siapkan selama 3 tahun pendidikan itu sekitar Rp 145 juta. Dengan demikian, mulai dari saat ini setiap bulan saya harus menabung kurang lebih Rp 1 juta.

Hitungan di atas hanya untuk biaya pendidikan SMA. Tentunya akan bertambah lebih besar lagi jika dihitung biaya kuliah di perguruan tinggi. Tahun 2012 lalu, adik saya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri lewat jalur program Ujian Mandiri (UM). Besarnya biaya yang dibayarkan saat daftar ulang sebesar Rp 19 juta. Belum termasuk biaya SPP Rp 2 juta/semester. Dalam jangka waktu 12 tahun yang akan datang, biayanya tentu menjadi lebih besar lagi. Persoalannya, menyisihkan tabungan sebesar Rp 1 juta/bulan tentu tidak mudah bagi saya yang harus membagi penghasilan bulanan untuk berbagai keperluan keluarga.
Akhirnya saya coba mencari informasi produk asuransi pendidikan. Ada penawaran menarik melalui sistem anuitas progresif (premi meningkat setiap tahun). Pada tahun pertama premi asuransi sebesar Rp 2.230.000,- atau Rp 174.244,75/bulan. Tahun berikutnya meningkat lagi, hingga di Tahun ke-12 menjadi Rp 15.115.118,09 atau Rp 1.180.799,84/bulan.

Di tahun pertama, premi terbilang murah, yakni hanya 174.244,75/bulan. Tapi premi ini terus meningkat di tahun kedua hingga tahun terakhir atau tahun kedua belas. Persoalannya, saya belum yakin penghasilan akan terus meningkat setiap tahun seiring dengan premi yang juga meningkat. Alhasil, saya jadi terpikir mengajukan gagasan persiapan biaya pendidikan anak melalui produk asuransi pendidikan berbasis syariah dengan premi yang lebih murah.

Pertama, biaya pendidikan yang ‘diasuransikan’ tidak menanggung keseluruhan biaya pendidikan selama tiga tahun. Tapi hanya untuk tahun pertama saja. Pengalaman saya menyekolahkan putri pertama yang sekarang duduk di bangku SMP kelas dua, di tahun pertama memang banyak sekali biaya yang harus disiapkan sejak mulai anak dinyatakan diterima menjadi siswa di sekolah yang dituju. Tapi setelah kelas dua, relatif tidak terlalu banyak keluar biaya. Menurut saya, ini semacam win-win solution dari besarnya premi asurani pendidikan serta penyesuaian kemampuan membayar premi tersebut.

Kedua, mengacu pada poin pertama di atas, jika biaya pendidikan SMA selama tiga tahun sebesar Rp 145 juta, maka tahun pertama ‘hanya’ Rp 50 juta. Jika disimulasikan, premi rata-rata per bulan rata-rata hanya Rp 144.714,59 atau jika menggunakan sistem anuitas progresif tahun pertama Rp 71.162,08/bulan, terus meningkat hingga Rp 400.214,78/bulan di tahun ke-12. Besaran premi ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan memasukan seluruh biaya pendidikan selama tiga tahun.

Ketiga, dengan premi yang jauh lebih murah, tentunya banyak orang tua yang tertarik menjadi peserta. Tidak hanya mereka yang berpenghasilan tetap setiap bulan, namun kelompok masyarakat lain seperti petani dan juga pelaku usaha kecil dan menengah bisa tertarik untuk ikut serta. Selain itu, bagi mereka yang memiliki dua atau tiga anak bisa mengatur premi asuransi pendidikan dengan lebih baik lagi. Mengenai teknis pembayaran premi, bisa disesuaikan dengan konsep asurani yang berbasis syariah. Atau bisa juga penyelenggara asuransi bekerja sama dengan koperasi-koperasi syariah.

Pada akhirnya, gagasan di atas tidak terlepas dari upaya menjadikan asuransi syariah sebagai bagian dari perencanaan keluarga. Sistem syariah yang memiliki konsep ta’awun (saling tolong-menolong) tentunya sesuai dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Di sisi lain, hal ini merupakan implementasi dari hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ibnu Majah bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam.

RUNGGU YASINTA NADEAKpada

Berani memutuskan memulai berasuransi, langkah selanjutnya menjadi suatu kebiasaan. Maka sistem Syariah ini sangat membantu masyarakat Indonesia , berani menabung, menyisihkan sedikit penghasilannya untuk pendidikan anak. Maka akan tercipta suatu habit mengutamakan menabung dan mempersiapkan hari esok daripada untuk konsumsi yang kurang perlu atau karena tergoda oleh iklan,gaya hidup tetangga, dsb.

nenkpada

mohon dibuatkan asuransi anak sy 2, 5th suami 33th an polis.. dg premi minim 250-300an

    Brighter Life Indonesiapada

    Halo,

    bisa minta kontak yang dapat dihubungi?
    Nanti pihak Sunlife Indonesia akan menghubungi langsung dan berkonsultasi dengan Anda.
    Terima kasih🙂

Meisy Lucianapada

Tulisannya menarik. Informasi ini yang paling saya butuhkan.

Tambahkan komentar baru:

Catatan: Mohon pastikan membacakebijakan berkomentar dan syarat dan ketentuan untuk situs ini. Kami berhak untuk menghapus komentar yang melanggar kebijakan kami. Nama yang Anda berikan akan muncul setelah komentar Anda. Terima kasih!

Alamat email Anda tidak akan dimunculkan. Kolom yang dibutuhkan mempunyai tanda*

Memberikan Respons

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Terhubung dengan Brighter Life