DCSIMG

How To Be Wealthy

Asuransi Syariah Lebih Aman dan Menjanjikan!

Oleh BrighterLife.co.id

Komentar (1)

Oleh, Jaka Haris Mustafa

Dulu, banyak orang enggan menggunakan produk asuransi dengan dalih takut membuang uang atau takut sulit mengklaim asuransi. Stigma negatif masyarakat atas produk asuransi bukan tidak berdasar. Ada yang melakukan hitung-hitungan kasar dan menemukan bahwa uang yang bisa diklaim nantinya tidak sebesar akumulasi premi yang dibayarkan. Ada juga yang punya pengalaman buruk dengan agen asuransi, sehingga enggan berasuransi. Ada juga yang takut menggunakan produk asuransi karena takut premi yang dibayarkan hangus jika terjadi gagal bayar.

Namun hal negatif yang ada di atas tidak akan terjadi jika nasabah menggunakan produk asuransi syariah. Sebab prinsip dari asuransi syariah adalah tolong menolong, sehingga adil dan tidak bersifat “rakus”.

Selain itu, asuransi syariah dinaungi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bekerja di tiap-tiap lembaga keuangan. Jadi, tiap penyelenggara produk asuransi syariah memiliki Dewan Pengawas Syariah tersendiri. DPS yang bergandengan langsung dengan dewan komisaris perusahaan ini independen. Karena itu perannya dalam mengawasi perusahaan asuransi syariah cukup kuat. Dewan semacam ini tidak terdapat pada penyelenggara asuransi konvensional.

Prinsip asuransi syariah adalah menggunakan syirkah mudharabah. Mudharabah adalah keunggulan mutlak dari produk asuransi syariah. Sebab mudharabah menguntungkan bagi kedua belah pihak, dan juga sejalan dengan hukum syariah sehingga menjauhkan umat Muslim dari dosa memakan riba. Hal ini berbeda dengan asuransi konvensional yang menggunakan sistem bunga (riba). Berikut penjelasannya.

Asuransi konvensional menganggap premi yang masuk menjadi milik perusahaan. Sedangkan asas mudharabah adalah asas yang menganggap bahwa uang adalah milik nasabah, dengan penyedia asuransi adalah pihak yang mengelola uang nasabah.

Pada asuransi konvensional, nasabah dianggap sebagai pemasok dana segar bagi kelangsungan perusahaan asuransi. Sebab itu, asuransi konvensional menganggap uang premi adalah milik perusahaan. Nasabah yang telah memasok dana bagi perusahaan asuransi tentu berhak atas keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan. Keuntungan tersebut dibagikan dalam bentuk bunga yang besarannya ditentukan. Dalam hukum syariah disebutkan bahwa bunga itu haram. Selain itu, sistem ini juga tidak adil. Bayangkan pada suatu masa, perusahaan mendapatkan keuntungan besar, namun nasabah yang notabene memasok dana untuk perusahaan justru mendapatkan keuntungan kecil.

Jika dalam rentang waktu tertentu nasabah tidak sanggup membayar premi karena bangkrut, misalnya, maka asuransi konvensional akan menghanguskan premi nasabah yang ada di perusahaan. Kok kelihatannya kejam? Bukan kejam, namun memang seperti itu akadnya, sebab dalam asuransi konvensional, premi adalah milik perusahaan. Sehingga jika nasabah mengalami gagal bayar, perusahaan berhak menghanguskan uang yang sudah dibayarkan nasabah.

Hal ini berbeda dengan syariah dengan syirkah mudharabah. Pada mudharabah uang tetaplah milik nasabah, dan perusahaan asuransi hanya berhak untuk mengelolanya. Jika nasabah sedang tidak sanggup membayar premi, tentunya perusahaan asuransi tidak memiliki hak untuk menghanguskan uang milik konsumen. Sesederhana itu.

Karena perusahaan mendapatkan aliran dana segar dari dana milik nasabah untuk menjalankan bisnisnya, maka nasabah berhak pula atas keuntungan yang didapatkan perusahaan. Besaran keuntungan ini disebut dengan bagi hasil. Sistem bagi hasil adil, tidak seperti halnya sistem bunga.

Mudharabah menghindarkan konsumen dari premi yang hangus karena telat/gagal bayar, keuntungan yang adil karena bagi hasil, dan menghindari dari riba. Menjanjikan, bukan?

Yang ketiga, dewasa ini produk asuransi sangat penting bagi perencanaan keuangan keluarga. Dalam kuliah umumnya di Massachusets Institute of Technology (MIT), Prof. Esther Duflo pakar ekonomi mikro dan kemiskinan di negara berkembang, menekankan jika seseorang ingin aman secara finansial dan terlepas dari jerat kemiskinan, wajib hukumnya untuk menabung dan berinvestasi. Besarnya tabungan hendaknya dipatok setiap bulan.

Studi-studi terbaru juga menyebutkan pentingnya menabung dan berinvestasi jika ingin masa tua lebih bahagia. Hal ini bisa diaktualisasikan dengan menabung sekaligus berinvestasi lewat asuransi syariah.

Seperti disebutkan di atas, karena asuransi syariah menggunakan prinsip bahwa uang adalah milik nasabah, maka nasabah tidak akan dirugikan sedikit pun. Bentuk asuransi syariah yang bisa digunakan bagi keluarga Muslim bervariasi. Mulai dari asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, hingga asuransi harta benda. Asuransi syariah tentunya menjauhkan seorang Muslim dari risiko berat yang akan mengancam di kemudian hari.

Bayangkan jika Anda, seorang Muslim telah menginvestasikan sebagian harta Anda untuk pendidikan anak lewat asuransi syariah sejak kini. Karena bebas dari risiko telat atau gagal bayar, maka premi tersebut bisa digunakan kelak di kemudian hari. Selain itu nasabah juga no worries akan resiko membengkaknya biaya pendidikan anak di kemudian hari, karena sistem bagi hasil asuransi yang adil.

Tunggu apa lagi?

Tambahkan komentar baru:

Catatan: Mohon pastikan membacakebijakan berkomentar dan syarat dan ketentuan untuk situs ini. Kami berhak untuk menghapus komentar yang melanggar kebijakan kami. Nama yang Anda berikan akan muncul setelah komentar Anda. Terima kasih!

Alamat email Anda tidak akan dimunculkan. Kolom yang dibutuhkan mempunyai tanda*

Memberikan Respons

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Terhubung dengan Brighter Life