DCSIMG

How To Be Wealthy

Asuransi Menenangkan, Asuransi Syariah … Lebih Tenang Lagi

Oleh BrighterLife.co.id

Komentar (0)

Oleh, Aceng Lukman

Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, maka tidak heran jika sebagian besar keluarga Indonesia akan berusaha melaksanakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari dan mengajarkannya kepada anak-anak dalam keluarganya masing-masing. Hal tersebut juga terjadi pada diri saya bahkan bisa dibilang saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat relijius meski tidak sampai tahap fanatik.

Ayah saya (almarhum) adalah seorang tokoh masyarakat yang cukup disegani dan dihormati oleh warga, sementara Ibu saya adalah seorang guru ngaji tempat warga sekitar memercayakan anak-anak mereka untuk dididik ilmu agama (Islam). Maka saya dan ketujuh saudara kandung serta satu saudara berbeda Ibu, hidup dalam ajaran Islam yang ketat. Rutinitas kami sehari-hari sangat kental dengan ajaran Islam, bangun pada saat adzan awal (adzan sebelum adzan shalat Subuh), bagi anak laki-laki wajib ikut shalat berjamaah bersama warga sekitar di Masjid yang hampir selalu di imami oleh ayah dan bagi anak perempuan berjamaah dengan Ibu sebagai imam di rumah. Kami tidak akan bisa beranjak dari tempat kami shalat sebelum ayah dan ibu puas dengan hafalan dan bacaan Al-quran kami, dan itu biasanya baru selesai kurang dari satu jam sebelum kami harus berangkat ke sekolah pagi.

Beranjak remaja dan dewasa ajaran-ajaran Islam terus melekat dan menjadi landasan dalam memandang dan menilai suatu permasalahan atau fenomena. Apakah pacaran dibolehkan menurut Islam, apakah alat kontrasepsi itu halal atau haram menurut Islam, apakah imunisasi itu dibolehkan dalam Islam, bayi tabung, laki-laki memakai cincin emas meski itu cincin kawin, menabung di Bank, dan banyak hal lain termasuk asuransi.

Saya ingat suatu kejadian saat saya masih usia belasan dan baru sekolah di SMP, saat itu ada seorang yang belakangan saya ketahui seorang agen asuransi datang ke rumah dan bertemu dengan ayah saya, detil percakapan antara agen asuransi dengan ayah tidak bisa saya rekam semua, namun yang saya ingat betul adalah setelah agen asuransi itu pamit, ayah menjelaskan pada Ibu bahwa beliau menolak tawaran agen asuransi tadi karena beliau ragu apakah asuransi diperbolehkan dalam Islam, “kok seperti meminta jaminan kepada makhluk untuk apa yang akan terjadi pada diri kita di kemudian hari, harusnya kan kita hanya memohon kepada Allah Subhanahuwata’ala saja.” begitu ucapan beliau yang saya ingat.

Lulus SMA saya kuliah, dan selama kuliah banyak pemikiran-pemikiran baru baik itu dari dosen, teman kuliah, serta buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang menambah wawasan saya mengenai Islam. Cara saya memandang dan mengapresiasi sebuah fenomena dari sudut pandang Islam menjadi lebih dinamis. Namun demikian saya berusaha agar ajaran-ajaran yang pernah saya terima dari ayah dan ibu tetap saya jadikan patokan sebagai landasan awal.

Dua bulan setelah saya diwisuda, ayah saya dipanggil ke rakhmatullah. Beliau tidak meninggalkan banyak harta berupa materi, namun beliau meninggalkan begitu banyak warisan yang sangat berharga, sikap hidup, ajaran-ajaran agar anak-anaknya bisa menjadi manusia yang rakhmatan lil ‘alamin, cara beliau mendidik anak-anaknya, dan masih banyak lagi, itulah warisan beliau yang sangat berharga yang insha Allah akan kami wariskan juga pada anak-anak kami, amin ya robal ‘alamin.

Usai kuliah, saya bekerja dan berkeluarga, dan Alhamdulillah meski masih banyak penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh aparatur negeri ini, perekonomian Indonesia terus berkembang, dan hal ini tentu saja berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia yang terus naik. Kondisi tersebut tentu saja mengundang minat investor-investor untuk menanamkan modalnya dan menjalankan usaha di Indonesia dalam berbagai jenis usaha, tidak terkecuali dalam bidang asuransi.

Sejak saya bekerja sudah banyak agen asuransi yang menawarkan produknya kepada saya, tapi saya tolak. Sebetulnya saya tidak antipati dengan asuransi dan semakin paham dengan maksud dan tujuannya namun ucapan almarhum ayah saya masih terus melekat di alam bawah sadar saya dan belum mengijinkan saya untuk menerimanya.

Hingga suatu hari, datang seorang Ibu yang berbusana muslim tidak berlebihan, ke tempat saya bekerja. Tutur katanya halus dan apa adanya. Ibu itu menjelaskan tentang Asuransi Syariah. Mendengar uraian ibu tersebut, saya membayangkan seandainya agen asuransi yang dulu menemui ayah saya adalah ibu ini, saya yakin ayah saya tidak akan menolaknya.

Singkat cerita saya membeli produk asuransi yang ditawarkan oleh Ibu tadi, karena dari uraiannya saya yakin bahwa dengan membeli produk ini, saya tidak sedang menjaminkan apa yang akan terjadi pada saya di kemudian hari terhadap sesama makhluk, tapi ini adalah sebuah ikhtiar saya sebagai manusia agar jika suatu hal buruk terjadi, saya dan keluarga tidak akan menanggung beban terlalu berat secara ekonomi. Di samping itu, sistemnya pun dijalankan berdasarkan syariat Islam.

Saya jadi ingat riwayat nabi Yusuf alaihi salam, yang diminta pendapatnya tentang arti mimpi seorang raja, dan nabi Yusuf menyarankan agar selama musim panen, rakyat dari negara sang raja tadi menyimpan hasil panen nya untuk persiapan masa paceklik panjang yang akan datang. Kira-kira seperti kisah nabi Yusuf itulah kiasannya bagi saya tentang asuransi syariah ini. Dengan memiliki asuransi saya menjadi tenang, dan lebih tenang lagi karena asuransinya syariah

Tambahkan komentar baru:

Catatan: Mohon pastikan membacakebijakan berkomentar dan syarat dan ketentuan untuk situs ini. Kami berhak untuk menghapus komentar yang melanggar kebijakan kami. Nama yang Anda berikan akan muncul setelah komentar Anda. Terima kasih!

Alamat email Anda tidak akan dimunculkan. Kolom yang dibutuhkan mempunyai tanda*

Memberikan Respons

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Terhubung dengan Brighter Life